Menulis, Untuk Apa?

*Part 1

Untuk apa sih nulis? Emang penting ya? Aku bisa gak ya nulis?  eh, aku malu kalau tulisan ku dibaca orang, udah nulisnya di diary aja, biar gak dibaca orang.
Serangkaian pertanyaan yang sering bermain dikepala yang bisa membuat fikiran jadi kembali ke posisi awal,  aduh udah deh,  gak usah nulis! 

Hei, hallo diriku,.. Udah ya jangan berfikir aneh-aneh, mulai sekarang jangan kebanyakan mikir, tulis saja. 

Untuk mereset mindset bukanlah perkara yang mudah, namun harus dimulai,  kalau cuma di hayalin dan diucapkan saja tidak akan terwujud,  harus ada action nyata. 

Awal mula, membaca adalah hobi yang mengasikkan bagiku, buku apa saja bisa aku lahap, aku tidak begitu tau apa manfaat membaca,  yang aku tau, ketika aku membaca aku senang dan bahagia. Apalagi ketika menemukan bacaan yang ditulis oleh seorang yang piawai merangkai kata, yang mampu membawa pembaca masuk kedalam cerita mereka,  seolah-olah ikut sebagai tokoh di cerita itu, wah bisa-bisa lupa makan karena keseruannya.
Pokoknya, membaca adalah salah satu hiburan buatku. Sampai pada membaca bukan lagi sekedar hobi, namun sudah menjadi kebutuhan.Dan ini sudah menjadi kebiasaanku sejak masih umur belasan, walaupun kala itu belum bisa beli buku sendiri, jadilah perpustakan daerah sebagai tempat favoritku menghabiskan waktu, selain tempatnya nyaman, aku bisa baca dan pinjam banyak buku disana. 

Loh, kok jadi cerita tentang membaca? 
Oh iya, awal mula ketertarikanku menulis ya karena dari banyak membaca. Kesenanganku dalam membaca tak lepas peran dari kakak sulungku,  darinya aku banyak melihat aktivitas membaca, dia lebih kutu buku,  bahkan kertas bekas bungkus cabe dari warung saja akan dibacanya sebelum dibuang ke tong sampah. Kata emak, dari sejak umur 2 tahunan kakakku sudah hobi pegang koran milik bapak, pastinya dia membaca menurut versi imajinasinya. 

Keseruan berkelana dengan buku membuat aku menjadi senang coret-coret di diary, apa saja hal yang ku dapat dari buku biasanya aku pindahkan ke dalam tulisan kecil. Senang sekali rasanya, kalau isi coretan di diaryku bertambah, dari kesenangan itu aku jadi suka menulis, walaupun hanya aku yang tau isi tulisan itu. 

Ternyata bukan cuma membaca yang ditularkan kakak sulungku, setelah dia tamat Aliyah, kakak merantau ke kota emak dilahirkan. Jadilah kami sering berkomunikasi lewat surat menyurat, saat itu kami belum punya telepon genggam (HP), kalau mau dengar suara pasti harus ke kota, berbicara dengan pesawat telpon yang ada di Wartel (Warung Telekomunikasi). 
Saat paling di tunggu adalah menerima surat balasan yang di antar oleh Pak Pos,  yang dititipkan ke alamat sekolahku, maklum kampung kami tidak masuk akses pelayanan dari Kantor Pos.
Ah, bahagia sekali rasanya membaca surat itu, apalagi mulai menulis balasannya. Kata demi kata ku susun sebagai cerita yang aku kabarkan untuk kakakku. 
Momen ini berjalan cukup lama, sampai pada masa surat menyurat sudah tergantikan dengan telpon genggam (HP) dengan layanan Short Message System (SMS). 

Kebiasaan menulis dan surat menyurat terus ku lanjutkan, diary masih menjadi sahabat setia untuk menerima segala curahan isi hatiku, dan partner surat menyuratku adalah teman kecil saat duduk di sekolah dasar, dia juga hebat merangkai kata.

Alhamdulillah, beberapa teman dan sahabat baikku senang saat menerima surat-surat dariku. Kata mereka, asyik membaca tulisan-tulisanku. 

Bersambung..

-Arie Wahyu Ningrum-
Jakarta, 6 Januari 2021


Belum ada Komentar untuk "Menulis, Untuk Apa? "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel