Menulis, Untuk Apa? Part 2
*Part 2
Kesenanganku surat menyurat terus berlanjut saat aku duduk di bangku Aliyah, ketepatan salah satu sahabatku di Tsanawiyah memutuskan tidak lanjut kesekolah yang sama denganku, jadilah kebiasaan nulis surat beralih ke sahabatku yang juga suka sekali membaca ini. Banyak sekali buku yang dia punya, dia adalah salah satu sahabat yang buku-bukunya selalu aku pinjam, "terimakasih ya best".
Alhamdulillah, walaupun kami biasa jumpa seminggu sekali, momen itulah yang kami gunakan untuk bertukar surat, unik terlihat, terkadang sampai tiga surat yang akan ku berikan kepadanya. Isinya, hampir semua curahan kerinduan dan kasih sayang antar sahabat, selebihnya cerita tentang kegiatan kami masing-masing.
Sebahagia itu bisa menulis untuk berbagi kisah, berbagi pengalaman dan berbagi rasa. Ternyata dengan menulis bisa meluapkan isi hati dan itu bisa menambah hormon bahagia dalam tubuh.
Apalagi kalau yang membaca tulisan kita bisa merasakan hal yang sama, karena biasanya tulisan yang dimulai dari hati akan sampai juga ke hati.
***
Aku adalah jenis kepribadian introvert, yang sangat sungkan dan malu bercerita kepada semua orang, mungkin hanya yang aku merasa nyaman saja yang bisa dengan leluasa mendengar ceritaku. Jadilah, menulis di diary atau buku catatan adalah kebiasaanku sampai sekarang, semua ku tulis, segala doa dan harapan, impian serta tujuan, bahkan hal-hal kecil yang terjadi dalam kehidupanku.
Perjalanan ku mengejar cita-cita, perjuangan meraih pendidikan lebih baik, bahkan kerinduan kepada ayahanda yang telah lama berpulang adalah tulisan2 yang sering mampir di catatanku.
Ada ketenangan, self healing, yang aku rasakan ketika menuliskan apa yang aku alami. Apalagi ketika mencoba menuliskan impian-impian yang tidak biasa, menuliskan jurnal syukur atas segala nikmat kehidupan yang Allah sudah berikan. Menceritakan pengalaman bahagia ataupun kisah yang tidak mengenakkan, semua mengalir saja dengan tulisan. Perasaan itu semua lebih tersalur ketika aku menuliskannya dari pada menceritakan kepada orang lain.
Lantas, sudah berani berbagi melalui tulisan? Belum, sama sekali belum, hanya sebatas merasa nyaman dengan menulis, sesekali berbagi tulisan kecil di akun media sosial. Rasanya malu apabila tulisan itu dibaca banyak orang, berguna atau tidak ya, ah.. banyak sekali pertimbangan ketika akan memublis tulisan-tulisanku. Punya cita-cita sebagai penulis tapi tak berani berbagi tulisan, dasar aku.
Bersambung..
-Arie Wahyu Ningrum-
Jakarta, 10 Januari 2021
Belum ada Komentar untuk "Menulis, Untuk Apa? Part 2"
Posting Komentar