Sepaket Cinta
Rumah tangga adalah ibadah yang terlama. Oleh sebab itu, siapapun yang sudah menyatakan siap lahir batin harus melakukan persiapan jauh sebelum hari itu tiba. Terutama belajar ilmu tentang pernikahan.
"Aduh ngapain sih sibuk-sibuk belajar pranikah, nikah itu gampang, nanti juga bisa belajar, lagian kan menikah itu lumrah, bisa ngalir sendiri."
Banyak sekali kita mendengar pernyataan seperti itu dari sebagian orang. Tapi maukah kita menjadi orang yang biasa2 saja, yang hanya menganggap tujuan menikah itu sekedar untuk mendapat keturunan. Sah - sah saja, karena salah satu dari tujuan menikah memang untuk memperoleh keturunan, tetapi itu bukan yang utama.
Tujuan utama dari menikah adalah Ibadah. Bayangkan kalau kita beribadah tapi tidak tahu ilmunya, tidak paham syarat dan rukunnya, tidak tahu apa saja yang diperbolehkan dan dilarang, bisa jadi tidak akan pernah sampai ketujuan. Ibarat berjalan di dalam gua yang tidak ada cahaya apapun, pasti akan banyak sekali benturan2 yang mengenai kita.
Setiap perjalanan rumah tangga pasti akan mengalami yang namanya masalah, baik itu masalah sepele dan sederhana atau bahkan masalah rumit lainnya. Apakah masalah itu bisa kita hindari? Dan kita minta supaya tidak ada masalah? Bukan,bukan seperti itu cara penyelesaiannya, tetapi bagaimana respon kita saat menghadapi masalah rumah tangga, bagaimana sikap awal kita menerimanya. Nah itu akan berbeda kalau kita sudah punya modal ilmu, bukan baru belajar kalau sudah ada masalah.
Lantas apakah ketika sudah belajar ilmu pranikah, sudah bisa menjalankan rumah tangga yang baik? Semoga Allah mudahkan, tetapi tidak sampai disitu saja, karena sejatinya begitu memasuki pintu pernikahan akan banyak lagi hal-hal yang harus terus dipelajari. Apa saja yang menjadi hak dan kewajiban sebagai seorang suami/istri, bagaimana cara berkomunikasi dan penerimaan atas kelebihan dan kekurangan pasangan masing-masing.
Sungguh suatu perjalanan panjang yang harus di arungi bersama. Bersyukurlah ketika mempunyai pasangan yang mau terus belajar dan memperbaiki diri serta berusaha untuk meningkatkan ketaqwaan kepadaNya. Menikah akan lebih indah kalau dengan orang yang tepat dan pada waktu yang tepat pula, dan semua itu atas kehendak Allah, kita sebagai hamba hanya bisa ikhtiar dan tawakkal.
Seperti pengalaman orangtua, saudara, sahabat dan teman-teman yang sudah lebih dulu menikah yang usia pernikahannya sudah jauh lebih lama, di tahun-tahun pertama akan banyak cobaan dan ujian dalam rumah tangga. Kuncinya hanya ada dua, yang pertama sabar dan yang kedua sabar. Loh, kenapa sabar? Ya karena dengan ilmu kesabaran kita bisa menikmati setiap masalah yang sedang di hadapi. Belajar lagi sabar dalam penerimaan. Berat, sudah pasti, tetapi tetap harus mencoba, karena dalam setiap fase kehidupan manusia memang harus diikuti dengan belajar dan menambah ilmu agar bisa di amalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kepada Allah kita serahkan segala urusan kehidupan, karena hanya dengan pertolonganNya kita bisa menjalani semua yang ada didepan kita.
Tulisan ini dibuat sebagai pengingat diri, khususnya untuk penulis sendiri. Semoga bermanfaat dan Allah mudahkan kita untuk terus berbenah dan belajar.
PS: Jazaakillah khoir buat ukhti ku yang sudah menghadiahkan sepaket cinta untuk kami, buku diatas insyaa Allah sebagai tambahan referensi untuk menambah khazanah ilmu pernikahan.
Barokallah fiikum
-Arie Wahyu Ningrum-
*Jakarta, 4 Januari 2021*
Belum ada Komentar untuk "Sepaket Cinta"
Posting Komentar