Ketika Ibadah adalah Tujuan Utama

Semua berawal dari niat. Bahwa tidak pernah melenceng perkataan dari Insan yg paling baik akhlaknya, "Segala sesuatu dimulai dari niat, dan sesungguhnya seseorang akan dibalas berdasarkan niatnya" (HR. Bukhari Muslim).
Niat adalah urusan hati antara hamba dan Rabb-Nya, tak ada orang lain yg tau apa sesungguhnya yang ada dalam niat seseorang dalam memulai dan melakukan sesuatu. 

Walaupun begitu, masing-masing dari kita boleh saling mengingatkan kepada orang lain dengan cara yang baik untuk kembali meluruskan niat dalam berbuat kebaikan, karena terkadang kita masih terpeleset dengan Niat yang salah.

Apalagi dalam urusan yang tujuan utamanya adalah Ibadah, yang darinya kita bukan saja mengharap pahala, lebih dari itu keberkahan dari Allah lah yang ingin diraih dalam setiap proses.

Masih terekam dengan jelas, saat dimana sebelum proses terikatnya dua insan dalam sebuah ikatan "Mitsaqon Ghalizo" yang langsung Allah sebagai saksi, masing-masing diminta untuk kembali meluruskan niat, meniatkan ikatan suci ini untuk Ibadah kepada Allah, agar kelak dalam menjalani sebuah tatanan baru bisa berpegang pada ketentuan Allah. 

Menjalani ibadah berumah tangga bukanlah hal yang bisa berjalan dengan mudah, dibutuhkan ilmu dan aplikasinya yang terus menerus, kesabaran bukan hanya dalam menghadapi kekurangan pasangan namun harus juga ketika dihadapkan dengan kelebihan yang sering membuat lupa dan terlena. 

Tak ada rumahtangga yang sempurna dalam praktiknya, karena setiap keluarga mempunyai cobaan dan ujian masing-masing sesuai dengan kadar yang sudah tertakar dengan tepat. Tetapi dibalik adanya suka duka dalam berumahtangga ada satu titik dimana masing2 dari setiap pasang suami istri tak berhenti untuk terus mau belajar dalam memperbaiki kesalahan dan berbenah diri serta mengingat kembali niat awal dalam menjalani ikatan pernikahan.

Tujuan utama berumahtangga bukan hanya untuk bisa menciptakan suasana sakinah mawaddah dan rahmah,  jauh dari itu sesungguhnya tujuan akhirnya adalah bisa selamat dari api neraka sekeluarga. 

Kembalikan semua kepada Allah, ketika suami atau istri menyadari bahwa masing2 mempunyai tanggungjawab langsung dihadapan Allah kelak, maka sesungguhnya mereka sedang berusaha untuk terus menjadi sebagai orang yang memulai tanpa ingin menuntut pasangan, menjadi orang yang pertama memberi tanpa ada embel2 untuk meminta balasan, karena apabila semua sudah dilandaskan karena Allah, otomatis Allah yang dengan cara-Nya akan membalas sesuai dengan usaha dan prasangka kita. 

***
Dzulhijjah adalah salah satu dari bulan yang dimuliakan Allah,  banyak sekali pahala akan dilipatgandakan jika kita melakukan kebaikan,  pun begitu sebaliknya.
 
Hari ini sebagai pengingat bagi diri, hari dimana janji kita kepada Allah terucap di depan para saksi,  hari ini sengaja kita pilih sebagai hari yang akan selalu menjadi saksi bahwa ikatan ini adalah karena Allah. 

Terima kasih telah membersamai dalam banyaknya kekurangan, terima kasih atas usaha yang selalu dilakukan untuk belajar memahami, menerima dan bersabar dalam setiap proses. 

Terima kasih sudah mengajarkan dengan selalu mencontohkan 3 ucapan sederhana yang efeknya sangat-sangat tidak sesederhana pengucapannya. 

MAAF atas segala hal yang tidak baik dalam diri ini. 
TOLONG jangan bosan untuk mengingatkan dalam kebaikan.
TERIMAKASIH atas segala pengorbanan yang telah engkau usahakan untuk menjalani kehidupan bersamaku. 

Kepada Allah kita berserah atas setiap perjalan yang sedang kita hadapi.  Semoga Allah senantiasa memberikan Ridho dan keberkahan-Nya dalam perjalanan ibadah ini. 

Jakarta,  'Id Adha 10 Dzulhijjah 1442 H
-Arie Wahyu Ningrum-
"Blessing and Grateful to be Yours"

Belum ada Komentar untuk "Ketika Ibadah adalah Tujuan Utama"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel